Pria bercadar itu segera membuat perisai yang melindungi seluruh tubuhnya dari serangan komandan Jiang. Setiap tebasan energi yang mengenai perisainya menyebabkan puluhan ledakan energi.

Hingga tiba-tiba—

BAGH!

Sebuah tendangan bertenaga petir menghantam tubuh pria bercadar itu!

Pria bercadar itu terhuyung ke belakang, darah segar keluar dari mulutnya dan membasahi cadar yang menutupi wajahnya. Namun, bukannya marah atau panik, sebuah tawa keras menggema di udara.

"Sungguh pantas menjadi seorang komandan," suara pimpinan bercadar terdengar, lebih dalam dan penuh kekuatan.

Pimpinan bercadar bergerak maju, auranya berdenyut kuat, tekanan yang dipancarkannya jauh lebih menakutkan dibanding pria bercadar sebelumnya. Pedang tergenggam di tangannya, Qi keemasan menyelimutinya seperti api yang bergejolak.

Pria bercadar yang melawan komandan Jiang sebelumnya, segera berdiri. Tubuhnya hanya terluka ringan namun melihat pimpinannya maju, dia tidak berani membantah dan mundur.

"Saatnya kita bermain-main. Aku perlu sedikit menggerakkan tubuhku yang kaku, ku harap kamu tidak mengecewakanku," ujarnya santai.

Dalam satu ayunan ringan, puluhan energi pedang tercipta dan melesat dengan kecepatan luar biasa menuju Komandan Jiang!

Mata Komandan Jiang membelalak. "Master Foundation Emas?!"

Tanpa berpikir panjang, ia segera membentuk perisai energi di depannya. Tubuhnya merendah dalam posisi bertahan, pedangnya melintang di depan dada.

BOOM! BOOM! BOOM!

Serangan bertubi-tubi menghantam perisainya, mendorongnya mundur beberapa langkah. Debu mengepul tebal, dan tekanan dahsyat membuat tulangnya bergetar.

"Kekuatan yang luar biasa... Apakah aku mampu menyelamatkan Nona Li Wei?!" pikirnya cemas, napasnya mulai berat.

Namun, Komandan Jiang bukan prajurit sembarangan. Bertahun-tahun pengalaman di medan perang telah mengajarinya bahwa pertempuran tidak hanya ditentukan oleh kekuatan, tetapi juga strategi.

Saat lawannya kembali menyerang dengan tebasan pedang dari jarak dekat, Komandan Jiang melakukan manuver tak terduga—ia mundur ke belakang, lalu menghantam tanah dengan kakinya.

BAGH!

Tanah terangkat, menciptakan kabut debu yang cukup untuk mengaburkan pandangan lawan.

"Inilah saatnya!"

Dalam sekejap, ia melesat ke samping, menghindari serangan lalu membalas dengan tebasan cepat dari arah yang tak terduga!

ZRAASSH!

Ujung pedangnya hampir mengenai lawannya!

Namun—

Dengan mudahnya, pimpinan bercadar itu memiringkan tubuhnya, menghindari serangan dalam hitungan detik.

Saat komandan Jiang menghadapi pria bercadar sebelumnya, perbedaan utama dari tingkat menengah dan akhir hanya dari banyaknya kekuatan Qi dan teknik yang dimiliki. Namun, menghadapi pimpinan mereka, perbedaan antara Master Foundation Perak dan Master Foundation Emas bukan sekadar jumlah Qi yang dimiliki. Itu adalah perbedaan yang sangat jauh—bagaikan langit dan bumi.

Pimpinan bercadar itu tertawa kecil, gerakannya seakan tanpa beban. "Cukup pintar. Kau benar-benar pantas menjadi seorang komandan."

Namun, senyumnya perlahan berubah menjadi licik.

"Tapi sayangnya... permainan ini sudah cukup."

Seketika, auranya meledak!

Qi keemasan yang menyelimuti tubuhnya melonjak dengan kekuatan yang jauh lebih menekan.

Komandan Jiang mengeratkan genggamannya pada pedang, keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Lawan ini... benar-benar berbahaya!

Tiba-tiba, aura mengerikan yang terpancar dari tubuh pria bercadar itu segera melingkupi area di sekitar mereka.

WUUUSSH!

Komandan Jiang merasakan tekanan luar biasa menekan tubuhnya. Matanya membelalak kaget. "Aku yakin, ini kekuatan seorang master foundation emas tingkat menengah...!"

Pimpinan bercadar itu tertawa kecil. "Aku mengira kamu dapat membuatku bersenang-senang, Mampu memberikan perlawanan. Tapi kenyataannya..."

Dengan kecepatan yang mustahil untuk ditangkap mata biasa, pria bercadar itu melesat ke depan!

DUAGH!

Sebuah pukulan telak menghantam perut Komandan Jiang, membuatnya terpental beberapa meter ke belakang dan menghantam pohon besar dengan keras.

CRASH!

Batang pohon retak akibat benturan tubuhnya. Komandan Jiang terbatuk, darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

"Kekuatan yang sangat luar biasa...!" pikirnya dengan ngeri.

Dia mencoba berdiri, tetapi sebelum sempat mengangkat pedangnya, pria bercadar itu sudah berada tepat di depannya.

BUAGH!

Sebuah tendangan keras menghantam dadanya, membuatnya jatuh berlutut.

Komandan Jiang berusaha mengatur napas, tetapi tekanan dari lawannya terlalu kuat. Seluruh tubuhnya bergetar karena luka yang mulai bertambah parah.

"Tsk tsk... Komandan Jiang, ternyata kau tidak lebih dari seekor harimau tanpa taring," kata pimpinan bercadar itu dengan nada mengejek.

Komandan Jiang menatapnya dengan penuh kebencian, tetapi ia tahu, pertempuran ini sudah berakhir.

Dari kejauhan, pasukannya yang tersisa hanya bisa menonton dengan wajah penuh ketakutan. Mereka tahu, jika Komandan Jiang saja kalah, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa.

Pimpinan bercadar itu mengangkat pedangnya, mengarahkannya ke leher Komandan Jiang.

"Bagaimana menurutmu? Apakah aku harus mengakhiri ini..." katanya dengan nada dingin.

Komandan Jiang mengepalkan tangannya, bersiap menerima nasibnya.

"Bebaskan nona Li Wei! Kamu boleh membunuhku, tetapi jika kamu melukainya, bukan hanya walikota yang perlu kamu khawatirkan, tetapi juga sekte Api Langit. Dia murid dalam sekte tersebut. Dan para tetua sekte pasti akan segera datang kesini saat mengetahui murid kesayangan mereka terluka." Komandan Jiang berusaha membujuk dan menakutinya agar mereka bersedia membebaskan putri walikota.

Namun, kenyataannya, semua pria bercadar yang mendengar dan pimpinannya, bukannya takut, justru menertawakannya sehingga terlihat kebingungan di wajah komandan Jiang. Dia menatap pria dihadapannya berusaha mengetahui alasannya.

"Apa kamu pikir kami tidak tahu mengenai hal itu? Seharusnya kamu sudah bisa berpikir, kenapa kami tahu bahwa dia adalah putri walikota. Dan kenapa kami harus bersusah payah memancingmu menjauh terlebih dahulu, itu agar bisa mengalihkan perhatian putri walikota, agar dia tidak punya kesempatan untuk menghubungi sektenya. Kami tahu mereka punya cara saling menghubungi jika berada dalam bahaya." Kata pimpinan bercadar dengan tertawa keras.

"Siapa kamu sebenarnya? Dan apa tujuanmu?" Kata komandan Jiang dengan nada lemah, berusaha mengumpulkan kekuatannya untuk dapat berbicara.

"Siapa kami? Apakah kamu penasaran Komandan Jiang? Apakah sudah cukup merasakan kekuatan kami?" katanya sambil tersenyum sinis. Dengan gerakan santai, dia melepas penutup wajahnya, memperlihatkan wajahnya yang keras dan penuh bekas luka.

Mata Komandan Jiang membelalak. "Gao Qian!" serunya penuh kemarahan dan keterkejutan. "Jadi kau dalang di balik semua ini!"

Gao Qian—seorang penjahat kelas kakap yang terkenal karena kebrutalannya. Dia telah lama menjadi buronan kerajaan Qingxuan karena kasus pembunuhan dan pencurian yang tak terhitung jumlahnya, dia juga dicurigai sebagai mata-mata kerajaan lain yang berusaha menguasai kerajaan Qingxuan. Bertahun-tahun pasukan kerajaan memburunya, namun dia selalu berhasil menghilang tanpa jejak. Siapa sangka, selama ini dia bersembunyi di kota Huoling?

Gao Qian tertawa kecil, ekspresinya penuh keangkuhan. "Kau cukup pintar karena bisa mengenaliku. Tapi sayangnya, kepintaranmu itu tidak akan menyelamatkanmu hari ini. Ini hanyalah langkah awal untuk rencana besar yang akan datang, tetapi sungguh disayangkan, kamu tidak akan melihat apa yang akan terjadi di kerajaan ini."

"Apa maksudmu?" Kata komandan Jiang dengan penasaran. Dia merasa penculikan ini tidak sesederhana yang dipikirkannya. Ada sesuatu yang lebih besar akan terjadi.

"Kamu tidak perlu mengetahuinya. Dan satu hal lagi, bala bantuan kalian tidak akan pernah tiba. Anak buahmu tidak akan pernah sampai ditujuannya." Kata Gao Qian dengan ekspresi senang.

"Kau..." Komandan Jiang kini paham maksudnya. Mereka terlihat membiarkan anak buahnya kembali untuk memberi informasi, namun mereka semua sudah merencanakan untuk tidak melepaskan mereka semua.

Tatapannya beralih ke Li Wei yang masih dalam genggaman anak buahnya. "Aku hanya membutuhkan putri walikota untuk melancarkan rencana kita selanjutnya. Aku tidak memerlukan orang lain lagi. Kalian bisa menghabisinya sekarang juga!"

Komandan Jiang menggertakkan giginya. "Gao Qian! Jika kau berani menyentuhnya, aku bersumpah kau tidak akan bisa lari dari hukuman!"

Gao Qian mendengus, lalu melambaikan tangannya dengan santai. "Hukuman?" Dia menatap Komandan Jiang seolah mendengar lelucon konyol. "Aku sudah hidup dalam pelarian selama bertahun-tahun, dan tidak ada satu pun pasukan kerajaan yang mampu menangkapku. Kau pikir ancamanmu akan membuatku takut?"

"Selain itu, jika kami membunuh kalian semua, siapa yang bisa memberi tahu mereka, orang yang telah melakukan ini semua?" lanjutnya dengan suara sinis.

Dia kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan dengan suara dingin memberi perintah, "Bunuh mereka semua!"
